Ansor Jatim Teguhkan Tradisi Sanad dan Intelektualitas melalui Majelis Lailatul Isnad
- account_circle BSA Jawa Timur
- calendar_month Sel, 17 Feb 2026
- visibility 110
- comment 0 komentar

Surabaya, Ansor Jatim – Ansor Jawa Timur kembali menegaskan jati dirinya sebagai organisasi kepemudaan yang tidak hanya dikenal dengan militansi gerakan, tetapi juga kokoh dalam tradisi intelektual dan spiritual. Penegasan itu tampak dalam gelaran Majelis Lailatul Isnād yang berlangsung khidmat di Graha Ansor Jawa Timur pada Senin (16/2/2026) malam.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga menjelang dini hari tersebut menghadirkan Al-Musnid KH. Aly Mas’adi, Katib dari ulama besar asal Padang, Syekh Yasin al-Fadani. Ratusan kader dan santri memadati aula Graha Ansor Jatim untuk mengikuti pembacaan dan ijazah 40 Hadits Musalsal, sebuah mata rantai transmisi ilmu yang tersambung hingga kepada Rasulullah.
Dalam tausiyahnya, KH. Aly Mas’adi menyampaikan ijazah ‘āmmah melalui dua hadis penting: Hadis Musalsal bil Awwaliyah yang menegaskan nilai kasih sayang, serta Hadis Musalsal bil Mahabbah tentang cinta. Menurut beliau, esensi pengutusan Nabi adalah rahmah. Karena itu, seorang murid hendaknya memantaskan diri sebagai pewaris risalah dengan menanamkan kasih sayang dalam hati sebelum menyebarkannya kepada sesama. Ia juga mencontohkan keteladanan sahabat Muadz bin Jabal, yang secara langsung menerima ungkapan cinta dari Rasulullah sebagai bagian dari pendidikan ruhani.
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur H. Musaffa Safril dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bukti komitmen Ansor dalam menjaga amanah para kiai dan muassis Nahdlatul Ulama, tidak hanya secara organisatoris tetapi juga dalam merawat tradisi keilmuan. Ansor, tegasnya, harus menjadi navigator ilmu yang aktif, membumi, dan kredibel sebagai penjaga sunnah.
Senada dengan itu, Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM PW GP Ansor Jatim Sahabat Abdulloh Hamid menyoroti pentingnya sanad di tengah era digital. Ia menegaskan bahwa sanad bukan sekadar deretan nama, melainkan mekanisme penting yang menjembatani teks, metode, dan etika keilmuan. Menjaga sanad berarti menjaga integritas ilmu agar tetap otentik dan dapat dipertanggungjawabkan hingga sumber asalnya.
Hadir dalam acara tersebut H. Shampton Masduqie kepala kantor Kemenag Kota Malang beserta istri (Ning Raudloh Quds), Kehadiran unsur birokrasi dalam kegiatan ini semakin memperkuat pesan sinergi antara ulama, pemuda, dan pemerintah dalam menjaga marwah keilmuan. Majelis Lailatul Isnād pun menjadi momentum strategis bagi GP Ansor Jawa Timur untuk melahirkan kader yang tidak hanya tangguh di ranah sosial dan lapangan, tetapi juga matang secara intelektual dan kokoh secara spiritual.
Dengan sanad yang terawat, Ansor memastikan bahwa setiap langkah dakwah dan pengabdian tetap berada dalam koridor moderasi (wasathiyah), berakar pada tradisi, dan terhubung secara sahih kepada mata air keilmuan Islam. (**)
- Penulis: BSA Jawa Timur
