IKAPMII Pasuruan Gelar Sholat Ghoib dan Diskusi Obituari 7 Hari KH Enceng Sobirin
- account_circle Redaksi 9
- calendar_month Kam, 26 Nov 2020
- visibility 186
- comment 0 komentar

Pasuruan – Pengurus Ikatan Alumni PMII Pasuruan Raya menggelar peringatan 7 hari kepergian tokoh kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU) KH. Enceng Sobirin Najdmudin.
Acara yang dikemas dalam tiga agenda itu dimulai dengan penyampaian obituari almarhum, sholat ghoib serta pembacaan yasin dan tahlil.
Bertempat di Panembahan STAPA Bangil pada rabu malam (25/11/2020), sejumlah aktivis dan alumni PMII Pasuruan melangitkan doa yang dikhususkan untuk almarhum yang selama hidupnya dikenal sebagai teladan dalam perjuangan di Nahdlatul Ulama.
Waladi Imaduddin yang diberikan kesempatan untuk menyampaikan obituari almarhum menjelaskan secara detail bagaimana kerja-kerja perjuangan Aktivis LP3ES itu dalam melahirkan Kaderisasi Penggerak NU.
“Hampir 10 tahun terakhir tanpa henti beliau almarhum berkeliling menggerakan kaderisasi yang sudah lama terhenti. Beliau bersama Kyai Adnan dan Kyai Mun’im mendapatkan wasiat dan perintah langsung dari Rois Am KH. Sahal Mahfudz untuk menghidupkan kaderisasi Nahdlatul Ulama” Terang Waladi.
Sang ideolog adalah kata yang pas melihat perjuangan almarhum selama ini, menurut Waladi Imaduddin banyak kader militan dan Muharrik yang sukses dilahirkan oleh tokoh sederhana KH. Enceng Sobirin baik itu di Kaderisasi Ansor maupun dalam PKP NU.
Kesan lain dari Almarhum menurutnya adalah sifat kesederhanaannya yang patut menjadi teladan bagi seluruh kader NU.
“Kita yang pernah mendapatkan didikan beliau dalam kaderisasi semuanya menyaksikan bagaimana kesederhanaan beliau dalam hidup, sikap dan berpenampilan, bahkan kopyah hitam yang dipakai hingga berubah kekuningan” Jelasnya.
Namun yang menarik adalah kisah dibalik kopyah hitam Almarhum yang menemaninya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Menurut alumni PMII yang kini berkhidmad sebagai ketua Direktorat Kaderisasi PCNU Kota Pasuruan itu menyimpan satu kisah tersendiri.
“Saya terakhir bertemu almarhum pada awal September lalu di Panembahan Jolotundo, saya iseng bertanya apa kopyah nya gk mau ganti Kyai? Dia jawab ini kopyah pemberian langsung Mbah Sahal Mahfudz, kopyah yang dipakai Mbah Sahal, diberikan ketika dirinya mendapatkan amanah kaderisasi” Jelasnya.
Acara kemudian berlanjut dengan sholat ghoib dan pembacaan yasin dan tahlil yang dipimpin oleh Gus H. Abdul Hamid Mujib.
Tokoh Jatman Pasuruan itu juga memberikan beberapa pandangan dan obituari tentang KH. Enceng Sobirin Najdmudin.
Dalam paparannya, Gus Hamid menilai perjuangan kaderisasi melalui PKPNU yang pernah diikutinya dan sukses menggerakan roda organisasi NU di banyak daerah adalah sumbangsih besar dari Almarhum.
Dirinya menilai selain untuk menghidupkan organisasi melalui kader Penggeraknya NU, PKPNU yang merupakan maha karya Almarhum adalah bertujuan untuk mengembalikan rel dakwah NU yang santun dan berkahlak serta menjunjung keilmuan, kini dikotori oleh cara dakwah kasar, makian dan pernasaban.
“Saya memandang bahwa kaderisasi yang dilahirkan oleh Kyai Enceng harus tetap kita lanjutkan sebagai cara untuk tetap menjaga cara dakwah kyai-kyai yang sudah ratusan tahun berjuang di Nusantara dan kini dilanjutkan oleh Nahdatul Ulama. Mari kita bangga sebagai kader NU dengan cara dakwah Kyai” Tegasnya.
Acara yang dipandu oleh M. Suwaji Anwar itu dihadiri oleh beberapa alumni seperti ketua KPUD Kabupaten Pasuruan Zainul Faizin, Jauharul luthfi, Ali Sadikin dan alumni muda PMII serta pengurus PC PMII Pasuruan.
- Penulis: Redaksi 9
Saat ini belum ada komentar