Bahas Strategi Pengamanan hingga Akar Sejarah, Ngaji Ngopi Banser Sumbersuko Berlangsung Kritis
- account_circle BSA Jawa Timur
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 77
- comment 0 komentar

Saat Melaksanakan Kegiatan Rutinitas
Lumajang, Ansor Jatim – Forum rutin Ngaji Ngopi ke-16 yang digelar Satkoryon Banser PAC GP Ansor Kecamatan Sumbersuko pada Rabu malam (23/04/2026) berubah menjadi ruang diskusi intelektual yang mendalam. Bertempat di kediaman Sahabat Soviyan Hardianto, para kader loreng ini tidak hanya sekadar berkumpul, tetapi membedah tuntas strategi organisasi dan penguatan kapasitas personel dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Diskusi memanas saat narasumber utama dari jajaran Satkorcab Banser Lumajang, Komandan Agus Ahmadi, memaparkan materi tentang sejarah dan protokoler. Beliau menekankan bahwa Banser adalah organisasi yang lahir dari keringat dan darah perjuangan para ulama. Memahami sejarah, menurutnya, adalah pondasi agar kader tidak kehilangan arah saat menjalankan tugas di lapangan.
“Banser itu bagian tak terpisahkan dari sejarah penjagaan agama dan bangsa oleh ulama. Oleh karena itu, militansi kita bukan buta, tapi berdasar pada nilai sejarah. Terkait pengamanan (PAM), kedisiplinan dan etika adalah wajah organisasi. Pembagian tugas dan kepatuhan pada protokoler saat di lapangan menentukan marwah Banser di mata publik,” tegas Komandan Agus Ahmadi di hadapan para peserta.
Tak kalah tajam, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Lumajang, Gus Izzuddin, M.H. (Gus Udin), dalam diskusinya menyoroti urgensi legalitas kader. Ia menegaskan bahwa militansi tanpa jalur kaderisasi formal adalah ketimpangan. Gus Udin membedah kaitan erat antara PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) dengan kualitas kepemimpinan yang akan dihasilkan oleh PAC Sumbersuko ke depan.
“Pintu gerbang organisasi ini adalah kaderisasi formal. Tanpa PKD, kita hanya akan memiliki kerumunan, bukan barisan. Saya mendesak PAC Sumbersuko untuk segera mengeksekusi pengkaderan formal sebagai mesin regenerasi. Kita butuh kader yang tidak hanya loyal secara emosional, tapi juga kompeten secara struktural,” ujar Gus Udin dengan nada instruktif.
Suasana diskusi semakin kaya dengan sesi tanya jawab terkait implementasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) pasca Dirosah Ula yang dibawa oleh Sahabat Ghofur. Fokus diskusi bergeser pada bagaimana mentransformasikan teori-teori organisasi yang didapat dari pelatihan menjadi aksi nyata yang menyentuh kepentingan masyarakat di wilayah Sumbersuko.
Kasatkoryon Banser Sumbersuko, Komandan Arif Hartanto, selaku moderator diskusi, berkali-kali mengingatkan anggotanya bahwa “Ngaji Ngopi” ini adalah laboratorium ide. Ia mengajak anggota untuk tidak ragu menyampaikan kendala lapangan agar bisa dicari solusinya bersama dalam forum tersebut, demi menjaga kesiapsiagaan personel dalam setiap tugas pengabdian sosial.
Penulis : PAC GP Ansor SumbersukoRedaktur : BSA Lumajang
- Penulis: BSA Jawa Timur
