Breaking News
Trending Tags
Beranda » KeNUan » Sejarah Singkat Berdirinya Nahdlatul Ulama

Sejarah Singkat Berdirinya Nahdlatul Ulama

  • account_circle Ansor Jatim
  • calendar_month Jumat, 14 Agt 2020
  • visibility 754
  • comment 3 komentar
  • print Cetak

Setibanya di Tebuireng, santri As’ad (KHR As’ad Syamsul Arifin Situbondo) menyampaikan tasbih yang dikalungkan oleh dirinya dan mempersilakan KH Hasyim Asy’ari untuk mengambilnya sendiri dari leher As’ad. Bukan bermaksud As’ad tidak ingin mengambilkannya untuk Kiai Hasyim Asy’ari, melainkan As’ad tidak ingin menyentuh tasbih sebagai amanah dari KH Cholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari.

Sebab itu, tasbih tidak tersentuh sedikit pun oleh tangan As’ad selama berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng. Setelah tasbih diambil, Kiai Hasyim Asy’ari bertanya kepada As’ad: “Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?” Kontan As’ad hanya menjawab: “Ya Jabbar, Ya Qahhar”, dua asmaul husna tarsebut diulang oleh As’ad hingga tiga kali sesuai pesan sang guru. Setelah mendengar lantunan itu, Kiai Hasyim Asy’ari kemudian berkata, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah”.

(Choirul Anam, 2010: 72) Riwayat tersebut merupakan salah satu tanda atau petunjuk di antara sejumlah petunjuk berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Akhir tahun 1925 santri As’ad kembali diutus Mbah Cholil untuk mengantarkan seuntai tasbih lengkap dengan bacaan Asmaul Husna (Ya Jabbar, Ya Qahhar. Berarti menyebut nama Tuhan Yang Maha Perkasa) ke tempat yang sama dan ditujukan kepada orang sama yaitu Mbah Hasyim.

Petunjuk sebelumnya, pada akhir tahun 1924 santri As’ad diminta oleh Mbah Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng. Penyampaian tongkat tersebut disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa as.

Awalnya, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah yang langsung disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Kiai Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Sikap bijaksana dan kehati-hatian Kiai Hasyim dalam menyambut permintaan Kiai Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, di antaranya posisi Kiai Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa). Kiai Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional. Peran kebangsaan yang luas dari Kiai Hasyim Asy’ari itu membuat ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam.

Hasil dari istikharah Kiai Hasyim Asy’ari dikisahkan oleh KH As’ad Syamsul Arifin. Kiai As’ad mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah Kiai Hasyim Asy’ari justru tidak jatuh di tangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab.

Dari petunjuk tersebut, Kiai As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Kiai As’ad sebagai penghubung atau washilah untuk menyampaikan amanah Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim.

Dari proses lahir dan batin yang cukup panjang tersebut menggamabarkan bahwa lika-liku lahirnya NU  tidak banyak bertumpu pada perangkat formal sebagaimana lazimnya pembentukan organisasi. NU lahir berdasarkan petunjuk Allah SWT. Terlihat di sini, fungsi ide dan gagasan tidak terlihat mendominasi. Faktor penentu adalah konfirmasi kepada Allah SWT melalui ikhtiar lahir dan batin.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa berdirinya NU merupakan rangkaian panjang dari sejumlah perjuangan. Karena berdirinya NU merupakan respons dari berbagai problem keagamaan, peneguhan mazhab, serta alasan-alasan kebangsaan dan sosial-masyarakat.

Digawangi oleh KH Wahab Chasbullah, sebelumnya para kiai pesantren telah mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916 serta Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar pada 1918.

Kiai Wahab Chasbullah sebelumnya, yaitu 1914 juga mendirikan kelompok diskusi yang ia beri nama Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran, ada juga yang menyebutnya Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran. Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.

Komite Hijaz

Embrio lahirnya NU juga berangkat dari sejarah pembentukan Komite Hijaz. Problem keagamaan global yang dihadapi para ulama pesantren ialah ketika Dinasti Saud di Arab Saudi ingin membongkar makam Nabi Muhammad SAW karena menjadi tujuan ziarah seluruh Muslim di dunia yang dianggap bid’ah. Selain itu, Raja Saud juga ingin menerapkan kebijakan untuk menolak praktik bermadzhab di wilayah kekuasaannya. Karena ia hanya ingin menerapkan Wahabi sebagai mazhab resmi kerajaan.

Rencana kebijakan tersebut lantas dibawa ke Muktamar Dunia Islam (Muktamar ‘Alam Islami) di Makkah. Bgai ulama pesantren, sentimen anti-mazhab yang cenderung puritan dengan berupaya memberangus tradisi dan budaya yang berkembang di dunia Islam menjadi ancaman bagi kemajuan peradaban Islam itu sendiri.

Choirul Anam (2010) mencatat bahwa KH Wahab Chasbullah bertindak cepat ketika umat Islam yang tergabung dalam Centraal Comite Al-Islam (CCI)–dibentuk tahun 1921–yang kemudian bertransformasi menjadi Centraal Comite Chilafat (CCC)—dibentuk tahun 1925–akan mengirimkan delegasi ke Muktamar Dunia Islam di Makkah tahun 1926.

Sebelumnya, CCC menyelenggarakan Kongres Al-Islam keempat pada 21-27 Agustus 1925 di Yogyakarta. Dalam forum ini, Kiai Wahab secara cepat menyampaikan pendapatnya menanggapi akan diselenggarakannya Muktamar Dunia Islam. Usul Kiai Wahab antara lain: “Delegasi CCC yang akan dikirim ke Muktamar Islam di Mekkah harus mendesak Raja Ibnu Sa’ud untuk melindungi kebebasan bermadzhab. Sistem bermadzhab yang selama ini berjalan di tanah Hijaz harus tetap dipertahankan dan diberikan kebebasan”.

Kiai Wahab beberapa kali melakukan pendekatan kepada para tokoh CCC yaitu W. Wondoamiseno, KH Mas Mansur, dan H.O.S Tjokroamonoto, juga Ahmad Soorkatti. Namun, diplomasi Kiai Wahab terkait Risalah yang berusaha disampaikannya kepada Raja Ibnu Sa’ud selalu berkahir dengan kekecewaan karena sikap tidak kooperatif dari para kelompok modernis tersebut.

Hal ini membuat Kiai Wahab akhirnya melakukan langkah strategis dengan membentuk panitia tersendiri yang kemudian dikenal dengan Komite Hijaz pada Januari 1926. Pembentukan Komite Hijaz yang akan dikirim ke Muktamar Dunia Islam ini telah mendapat restu KH Hasyim Asy’ari.

Perhitungan sudah matang dan izin dari KH Hasyim Asy’ari pun telah dikantongi. Maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar di Mekkah. Para ulama dipimpin KH Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz.

Namun setelah KH Raden Asnawi terpilih, timbul pertanyaan siapa atau institusi apa yang berhak mengirim Kiai Asnawi? Maka lahirlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama (nama ini atas usul KH Mas Alwi bin Abdul Aziz) pada 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 M.

Riwayat-riwayat tersebut berkelindan satu sama lain, yaitu ikhtiar lahir dan batin. Peristiwa sejarah itu juga membuktikan bahwa NU lahir tidak hanya untuk merespons kondisi rakyat yang sedang terjajah, problem keagamaan, dan problem sosial di tanah air, tetapi juga menegakkan warisan-warisan kebudayaan dan peradaban Islam yang telah diperjuangkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Tepat pada 31 Januri 2020, Nahdlatul Ulama berusia 94 tahun dalam hitungan tahun masehi. Sedangkan pada 16 Rajab 1441 mendatang, NU menginjak umur 97 tahun. Selama hampir satu abad tersebut, NU sejak awal kelahirannya hingga saat ini telah berhasil memberikan sumbangsih terhadap kehidupan beragama yang ramah di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Setiap tahun, Harlah NU diperingati dua kali, 31 Januari dan 16 Rajab. Penulis: Fathoni Ahmad Editor: Abdullah Alawi


  • Penulis: Ansor Jatim

Rekomendasi Untuk Anda

  • PC. GP Ansor Kab. Probolingo Gelar Rapat Koordinasi Pasca Konferensi

    PC. GP Ansor Kab. Probolingo Gelar Rapat Koordinasi Pasca Konferensi

    • calendar_month Minggu, 6 Nov 2022
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Probolinggo – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo bersama Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor sewilayah kerja Ansor Kabupaten Probolinggo menggelar rapat koordinasi organisasi, Sabtu (05/11/2022). Koordinasi dilakukan untuk menyolidkan kepengurusan dan silaturahmi pengurus baru pasca KONFERENSI CABANG IV yang dilaksanankan Akhir September lalu. Rapat koordinasi digelar di Aula Bin Muhdlor Lantai […]

  • Buruh, Inovasi, dan Ketahanan Pangan: Mewujudkan Keadilan Sosial di Era Digital

    Buruh, Inovasi, dan Ketahanan Pangan: Mewujudkan Keadilan Sosial di Era Digital

    • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
    • visibility 626
    • 0Komentar

    Oleh: Muhamad Ulil Arham Wakil Sekretaris Bidang Media dan Inovasi PW GP Ansor Jawa Timur   Tanggal 1 Mei selalu menjadi pengingat bahwa kerja adalah pilar utama peradaban. Hari Buruh Nasional bukan sekadar penghormatan terhadap mereka yang bekerja, tetapi juga refleksi tentang bagaimana negara memperlakukan tenaga kerja sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Di GP […]

  • Harlah NU ke-102, Ansor Lawanganagung gelar Majlis Dzikir & Sholawat Rijalul Ansor

    Harlah NU ke-102, Ansor Lawanganagung gelar Majlis Dzikir & Sholawat Rijalul Ansor

    • calendar_month Kamis, 30 Jan 2025
    • visibility 358
    • 0Komentar

    Lamongan, Ansor Jatim – Pengurus Ranting Gerakan Pemuda Ansor (GP ANSOR) Lawanganagung menggelar Tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-102 Nahdatul Ulama (NU) dan Isro’ Mi’roj di musholla Darussalam Dusun Sidowayah. Rabu (29/1/2025). Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Rotibul Hadad, Maulid diba’, dan Musyawarah. Seluruh Anggota yang hadir mengikuti rangkaian acara dengan penuh khidmat, mencerminkan semangat ukhuwah […]

  • PAC Tambak Pulau Gelar PKD dan Dirosah Ula

    PAC Tambak Pulau Gelar PKD dan Dirosah Ula

    • calendar_month Selasa, 19 Jul 2022
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Ansorjatim – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Tambak Pulau Bawean Kabupaten Gresik menggelar Pelatihan Kepemilikan Dasar (PKD) 1 dan Dirosah Ula sebagai kegiatan formal perdana. Kegiatan akan berlangsung selama tiga hari ke depan di Pondok Pesantren Al-Amin Sukaoneg, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik dipandu instruktur Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur, Jumat-Ahad […]

  • Raker Ansor Sukodono Dalam Mengoptimalkan Kinerja Satu Periode

    Raker Ansor Sukodono Dalam Mengoptimalkan Kinerja Satu Periode

    • calendar_month Jumat, 31 Jan 2025
    • visibility 849
    • 0Komentar

    Lumajang, Ansor Jatim – Dalam Mengoptimal kan kinerja Progam kerja kepengurusan , Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sukodono gelar Rapat Kerja (RAKER), Sekaligus pra harlah Nahdhotul Ulama MWCNU kecamatan sukodono. Acara tersebut berlangsung di pondok pesantre al-fatah, karangsari, sukodono lumajang (pengasuh) KH.As’ad Malik Qurtubi Mantan Bupati Lumajang , Kamis malam (30/1/2025). Kegiatan […]

  • Konfercab PC GP Ansor Kota Probolinggo Tetapkan Ketua DPRD Sebagai Ketua Terpilih

    Konfercab PC GP Ansor Kota Probolinggo Tetapkan Ketua DPRD Sebagai Ketua Terpilih

    • calendar_month Minggu, 27 Des 2020
    • visibility 417
    • 0Komentar

    Probolinggo – Suksesi kepemimpinan di tubuh Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kota Probolinggo berhasil digelar melalui Konferensi Cabang (Konfercab) Ke VII. Forum tertinggi organisasi ditingkatan PC GP Ansor itu berlangsung gedung Puri Manggala Bhakti, di lingkungan sekretariat Kantor Wali Kota Probolinggo, Minggu (27/12/2020). Dua kandidat bertarung menyampaikan gagasan besarnya untuk kemajuan GP Ansor Kota […]

expand_less