Gebrakan 1 Abad NU: GP Ansor Lumajang Siap Bentengi NKRI Lewat Dzikir Budaya
- account_circle BSA Jawa Timur
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 90
- comment 0 komentar

foto bersama saat selesai acara dzikir budaya bersama peserta (ansorjatim.or.id/rofiul)
Lumajang, Ansor Jatim – Momentum bersejarah 100 Tahun Masehi Nahdlatul Ulama (NU) dirayakan dengan cara yang unik dan mendalam di Kabupaten Lumajang. Bertempat di Aula LP2KS Yayasan Kyai Syarifuddin Wonorejo, Sabtu (14/02/2026), digelar perhelatan “Dzikir Budaya” yang mempertemukan semangat religiusitas dengan keteguhan menjaga tradisi nusantara. Acara yang digagas dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan atau tradisi Megengan ini mengusung tema besar: “Seni Beragama, Berbangsa, dan Bernegara dalam Bingkai Kearifan Lokal”.
Kegiatan ini menjadi panggung bagi GP Ansor Lumajang untuk menunjukkan taringnya sebagai garda terdepan penjaga tradisi. Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, GP Ansor menegaskan bahwa identitas bangsa tidak boleh luntur. Diskusi ini menghadirkan tiga tokoh sentral: Izzuddin, M.H. (Gus Udin) selaku Mandataris Ketua PC GP Ansor Lumajang, Dr. Zainul Arifin, S.Pd., M.M. (Ketua Lesbumi PCNU), serta akademisi hukum Anton Sujatmiko, S.H., M.H.
Dalam penyampainya yang memukau, Mandataris Ketua PC GP Ansor Lumajang, Izzuddin, M.H. (Gus Udin), menekankan bahwa kader Ansor harus menjadi pionir dalam merawat warisan leluhur.
“Penting bagi kita untuk menjaga budaya lokal dan menghargai perbedaan. Dengan perkembangan zaman ini, justru kita tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal seperti adab sopan santun serta seni budaya Islami yang ada di NU, seperti Al-Jiduri, sholawatan, dan tradisi masyarakat lainnya. Kita harus mensinergikan hal-hal yang bermanfaat agar tetap relevan,” tegas Gus Udin.
Senada dengan semangat Ansor, Ketua Lesbumi PCNU Lumajang, Dr. Zainul Arifin, S.Pd., M.M., mengungkapkan bahwa kolaborasi ini adalah langkah strategis untuk merangkul generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya.
“Kegiatan ini bertujuan membangun sinergi antara Lesbumi dengan GP Ansor untuk mengajak semua komponen, khususnya pemuda, agar tidak meninggalkan budaya lokal. Hal ini sangat selaras dengan aktivitas ke-Ansor-an, di mana Ansor juga ikut serta secara aktif menjaga nilai-nilai tradisi di tengah masyarakat,” jelasnya.
Tak hanya dari sisi budaya, perspektif hukum pun turut membedah bagaimana kearifan lokal menjadi fondasi dalam bernegara. Anton Sujatmiko, S.H., M.H., memberikan ulasan mengenai pentingnya regulasi yang mendukung pelestarian seni dan adab lokal sebagai bagian dari pertahanan bangsa.
Melalui Dzikir Budaya ini, PC GP Ansor Lumajang membuktikan bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan tradisi Megengan atau seni Al-Jiduri. Sebaliknya, nilai-nilai lama itulah yang menjadi “kompas” dalam menavigasi masa depan bangsa yang lebih beradab.
Penulis : Rofiul (Badan Siber Ansor Lumajang)
- Penulis: BSA Jawa Timur
