Kaderisasi GP Ansor dan Tantangan Berbangsa

0
26

M Luthfi Thomafi
Ketua PP GP Ansor, Dosen STAI Al-Anwar Sarang Rembang, Jawa Tengah

NAHDLATUL Ulama (NU) sering disebut sebagai Islam tradisionalis. Disebut demikian karena NU teridentifikasi mengembangkan ajaran Islam yang bersahabat dengan tradisi-tradisi lokal kemasyarakatan. Hal tersebut berlangsung sejak Islam kali pertama menginjakkan kaki di Nusantara lebih dari seribu tahun lalu. Selama perkembangan itu, Islam berproses secara tradisional bersama masyarakat lokal dan nyaris tanpa masalah.

Setidaknya tak ada catatan sejarah yang menyebutkan adanya bentrok antara Islam tradisionalis ini versus adat lokal. Islam di Nusantara menghadapi kendala justru bermula dari peristiwa politik yang terjadi di Arab Saudi, yaitu saat berkuasanya pemerintahan (negara modern baru) Arab Saudi pimpinan Muhammad bin Saud yang berkolaborasi dengan “Islamis” bernama Muhammad bin Abdul Wahab; belakangan ajarannya dikenal sebagai Islam Wahabi. Setelah berkuasa, mereka menyebarkan ajarannya ke daratan Timur Tengah dan berbagai kawasan lain, termasuk ke Nusantara. Singkatnya, Islam Wahabi ini berkembang untuk menolak model Islam yang berlaku di Nusantara.

Pada 1926 NU didirikan. Tujuan utamanya mempertahankan dan mengembangkan paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah yang selama ini telah diterima dan berkembang baik di Nusantara. Yang dimaksudkan Islam Ahlussunnah wal-Jamaah di sini adalah “golongan yang mengikuti ajaran Islam seperti yang diajarkan dan diamalkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Islam Ahlussunnah wal-Jamaah adalah Islam mainstream dan silent majority di dunia Islam. Dalam rangka membantu NU mempertahankan dan mengembangkan paham Islam Ahussunnah wal-Jamaah di Nusantara, dibentuklah organisasi underbow, di antaranya Muslimat, Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat, IPNU-IPPNU, dan lainnya.

GP Ansor dan Tantangan Bangsa
Gerakan Pemuda (GP) Ansor bukan saja sebagai underbow NU, juga bukan sekadar badan otonom yang memiliki kewenangan organisasi sendiri. Ia adalah organisasi pemuda NU yang merupakan wajah NU masa depan. Ia, dibantu Barisan Ansor Serbaguna (Banser), menjadi pertaruhan masa depan NU, bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan segala dinamikanya. Karena tantangan NU di masa depan semakin berat, GP Ansor saat ini harus mampu menciptakan dan melahirkan calon-calon pemimpin tangguh untuk masa mendatang. Rotasi dalam organisasi adalah sebuah kebutuhan.

Melihat berbagai fenomena lanskap Indonesia masa kini, ada tiga tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia lima tahun mendatang. Riset dari Alvara Research Center (2019) menggambarkan tiga tantangan tersebut: (1) munculnya generasi baru, (2) digitalisasi segala aspek kehidupan, dan (3) tren intoleransi dan radikalisme. Munculnya generasi baru menandai adanya perubahan struktur demografi Indonesia yang didominasi oleh (1) kelompok urban, yakni mereka yang tinggal di daerah perkotaan; (2) kelompok middle-class , yakni mereka yang memiliki pengeluaran sebanding dengan USD5-10 per hari; dan (3) kelompok milenial, yakni mereka yang saat ini berusia 17-34 tahun yang jumlahnya mencapai hampir 36% dari total penduduk Indonesia, dan merupakan generasi dengan tiga karakteristik yang menonjol; yaitu confidence , creative (out of the box , kaya ide), dan connected (pandai bersosialisasi, aktif di sosial media, dan internet).

Membeludaknya penduduk muda merupakan potensi sekaligus ancaman. Potensi karena mereka adalah sumber daya manusia (SDM) yang sedang dalam masa produktif untuk menopang pembangunan. Ancaman apabila mereka tidak dikelola dengan baik bisa menjadi salah satu penyebab bencana demografi. Kemajuan teknologi informasi dan internet telah mengubah segala perilaku masyarakat Indonesia.

Kehidupan kita sekarang tidak bisa dilepaskan dari internet. Berbagai survei menggambarkan tingkat konsumsi internet masyarakat Indonesia sangat tinggi, terutama di kalangan anak muda. Hampir 85% anak muda Indonesia terkoneksi dengan internet. Perkembangan dunia digital dalam era Industry 4.0 dan Society 5.0 juga menumbuhkan profesi-profesi baru yang 10 tahun lalu belum ada, seperti data scientist , artificial intelligence , machine learning , dan lain-lain. Termasuk fenomena baru dalam “beragama”, seperti fenomena berzakat/sedekah via daring atau belajar agama via internet.

Menyebarnya paham intoleran dan radikalisme pada tiga tahun terakhir ini dalam kehidupan masyarakat kita merupakan tantangan bagi Indonesia yang tidak bisa diremehkan. Populisme berbasis agama akhir-akhir ini menjadi senjata pamungkas dalam setiap kontestasi politik. Paham intoleransi bahkan saat ini telah menyasar kalangan terdidik. Survei Alvara Research Center (2017) menguatkan fakta kalangan kampus dan profesional mulai terlihat adanya tren meningkatnya paham intoleran dan radikalisme. Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan ideologi transnasional yang bersifat ekstrem-radikal semakin hari semakin kuat. Jika situasi ini diabaikan, eksistensi NKRI berada dalam ancaman.

Menghadapi tantangan-tantangan di atas, GP Ansor harus tetap konsisten meneguhkan diri sebagai pengawal, penjaga, dan pelayan bagi eksistensi Islam Ahlussunnah wal-Jamaah dan NKRI. Di sisi lain, GP Ansor dituntut secara serius menganalisis dengan cermat berbagai tantangan (dan ancaman) tersebut, merumuskan langkah taktis dan strategis untuk menjawabnya, serta mengambil tindakan-tindakan organisatoris terukur dan terbaik untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ada.

GP Ansor dan Sistem Kaderisasi
Guna menjamin komitmen dan tuntutan yang melekat pada GP Ansor terlaksana dengan baik, organisasi ini harus terus-menerus melakukan kaderisasi kepemimpinan secara kontinu dan sistematis. Kaderisasi, dalam konteks ini, adalah proses menyeluruh dalam pembentukan pemikiran, kepribadian dan perilaku. Untuk hal ini, maka dibutuhkanlah sebuah mekanisme yang baik, agar kader organisasi dapat memiliki bekal yang baik dalam berorganisasi dan bermasyarakat (PP Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah, 2015: 18).

GP Ansor, dan juga Banser, memiliki berbagai level kaderisasi formal. Dimulai dari tingkatan terbawah, Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), lalu Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), dan ditutup dengan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN). Sistem sejenis juga dilaksanakan untuk Banser, melalui Pendidikan & Pelatihan Dasar (Diklatsar), lalu Kursus Banser Lanjutan (Susbalan), dan ditutup dengan Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim). Berbagai level kaderisasi itu disusun sebab GP Ansor sangat menekankan pentingnya kaderisasi. Kaderisasi bahkan juga dilaksanakan pada kadernya di berbagai negara, di antaranya Arab Saudi, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan, dan Mesir.

Berkaitan dengan masalah-masalah bangsa sebagaimana tersebut di atas, selain telah menjadi rutinitas tahunan, GP Ansor melaksanakan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) pada 3-7 September 2019, di Pondok Pesantren An-Nawawi, Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Kegiatan tersebut mengambil tema “Meneguhkan Khidmat GP Ansor Mewujudkan Tata Dunia yang Adil dan Harmonis “, dan memiliki tujuan (1) Membentuk kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan gerakan demi meneruskan cita-cita organisasi dan perjuangan para ulama NU; (2) Melahirkan gagasan-gagasan inovatif sekaligus kader penggeraknya (muharrik ) bagi pencapaian misi organisasi dan kemajuan kehidupan masyarakat; serta (3) Meningkatkan wawasan dan keterampilan kepemimpinan di kalangan pimpinan GP Ansor menuju kemandirian organisasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here