Breaking News
Trending Tags
Beranda » Opini » Merdeka dari COVID-19

Merdeka dari COVID-19

  • account_circle Cyber Ansor
  • calendar_month Minggu, 23 Agt 2020
  • visibility 432
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Oleh: Mahdi El Kherid*

Pikiran kadang lebih kompleks permasalahannya, dibanding hal-hal yang tampak di permukaan. Karena pikiran, orang tak segan untuk bunuh diri. Karena pikiran tentang sebuah gengsi, orang bisa mencuri. Karena pikiran, kita bisa melakukan hal-hal di luar kendali.

Pikiran adalah salah satu persoalan paling penting dalam kehidupan manusia. Pikiran, kira-kira menguasai 90 persen persoalan umat manusia. Ketika pikiran kita beres, besar kemungkinan permasalahan hidup kita juga beres. Pikiran yang ruwet, barang tentu akan membuat persoalan kita menjadi ruwet.

Pikiran kolektif bangsa ini, adalah bagian yang dijajah oleh bangsa lain, sebelum kita merdeka, 75 tahun yang lalu. Tak perlu jauh-jauh membahas tentang pendidikan yang tak merata ketika kita sebelum merdeka, tentang pikiran kita bahwa cantik itu adalah putih, sedangkan jelek itu adalah hitam, bisa jadi adalah bagian dari penjajahan itu sendiri.

Mungkin karena penjajahan pikiran inilah, sastrawan Pramoedya Anantatoer sama sekali tidak menyesal ketika sudah berhubungan badan dengan noni-noni Belanda. Bahkan, dengan berhubungan badan itu, Pram merasa sudah satu kasta dengan noni-noni Belanda.

Rasa rendah diri atau infrioritas yang ada dalam diri Pram, langsung hilang ketika berhubungan badan dengan noni-noni Belanda. ”Karena hubungan seks itu, perasaan minder sebagai anak petani pada diri saya hilang seketika. Semua dari kita ternyata sama. Punya hak dan derajat yang sama juga sebagai manusia. Punya kemungkinan yang sama juga kalau memang kita punya keberanian,” kata Pram.

Tentu, penulis tidak hendak menganjurkan seks bebas dalam tulisan ini. Tapi, ingin menyampaikan bahwa pikiran yang terkukung, pikiran yang tak merdeka, sama bahayanya ketika fisik kita tak merdeka. Orang yang pikirannya tak jalan, mungkin sama terkekangnya dengan orang yang tak bisa jalan-jalan.

Tentang pikiran, akhir-akhir ini pikiran kita diuji dengan pandemi. Ketika usaha macet, ketika karyawan di rumahkan, ketika ibu repot mengurusi anaknya di rumah karena sekolah dari rumah, ketika kita tak bisa ke luar ke mana-mana. Semuanya itu, tak hanya menghantam fisik kita, tapi juga pikiran kita.

Belum lagi, ancaman resesi ekonomi di Indonesia kian nyata. Beberapa waktu lalu, Menteri Ekonomi Sri Mulyani sebut bahwa pertumbuhan ekonomi kita bisa minus 1,1 persen, hingga positif 0,2 persen.

Adapun perekonomian domestik di kuartal II mengalami kontraksi alias minus 5,32 persen (yoy). Jika kuartal III kembali minus, maka Indonesia akan bergabung dengan negara lain yang telah masuk ke jurang resesi. Karena inilah, situasi ekonomi di kuartal III, benar-benar harus diwaspadai.

Tapi, sebagai rakyat biasa, kita tak boleh terlalu memikirkan soal resesi, yang itu sudah ada yang memikirkan. Yang perlu kita pikirkan, adalah, bagaimana kita bisa merawat pikiran kita di tengah pandemi.

Salah satu caranya adalah dengan menerima kehadiran pandemi. Tidak takut, tapi tetap waspada. Tetap keluar rumah, tapi tetap waspada. Dengan bersikap moderat terhadap pandemi ini, maka kita bisa terhindar dari sakitnya pikiran.

Apalagi, jauh-jauh hari, Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo sudah menegaskan bahwa kita harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Apalagi, WHO menyebut kalau COVID-19 bisa jadi melandai, tapi tidak akan hilang. Dengan demikian, kita harus hidup bersama dan berdamai dengan COVID-19.

Nah, pada momen kemerdekaan ini, kita harus memaknainya agar pikiran kita bisa merdeka dengan COVID-19. Disebut pikiran merdeka dengan COVID-19 adalah, pikiran kita, tak boleh sempit, harus berpikir luas di tengah pandemi sekalipun.

Dengan berpikir positif, kita akan terhindar dari sak wasangka. Terhindar dari menyalahkan pemerintah. Terhindar dari sikap acuh tak acuh. Berpikir merdeka, berarti, bagaimana kita tetap melihat cahaya di lorong paling gelap sekalipun.

Contohnya, di tengah pandemi, kita bisa lebih banyak bersama keluarga. Bagi yang pengusaha, bisa lebih inovatif lagi, melihat peluang-peluang baru. Dan bagi karyawan yang di PHK, mungkin inilah waktu yang tepat untuk berwirausaha. Sedangkan bagi karyawan yang dipertahankan, mungkin inilah waktu untuk bersyukur terhadap perusahaan yang mempekerjakan kita.

Akhirnya, memilih berpikir merdeka dari COVID-19, adalah langkah tepat agar kita senantiasa melihat peluang, di situasi macam apapun.

*Penulis Adalah Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim.

  • Penulis: Cyber Ansor

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gus Amin Meminta Satukan Hati Untuk Mengabdi Dalam Pembukaan Susbalan II

    Gus Amin Meminta Satukan Hati Untuk Mengabdi Dalam Pembukaan Susbalan II

    • calendar_month Jumat, 8 Sep 2023
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Sampang, Ansor – Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) PC GP Ansor Kabupaten Sampang sudah resmi dibuka. Giat tersebut dilaksanakan di Kecamatan Sreseh dan dibuka langsung oleh ketua PC GP Ansor Kabupaten Sampang Gus Amin Syafik. Jum’at (8/9/2023). Acara tersebut dihadiri Kapolres Sampang dan ditemani jajaran Forkopimcam Kecamatan Sreseh. Bertindak sebagai inspektur upacara Gus Amin Syafik. Pihaknya […]

  • Peletakan Batu Pertama Pembangunan Huntara Oleh Banser Lumajang

    Peletakan Batu Pertama Pembangunan Huntara Oleh Banser Lumajang

    • calendar_month Sabtu, 29 Jan 2022
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Ansorjatim – Bupati Lumajang sekaligus Kasatkorcab, Ketua PC Ansor Kab Lumajang dan Ketua PAC Ansor Se-kabupaten Lumajang Beserta pengurus harian dan dihadiri juga oleh sejumlah anggota banser lumajang, hadir dalam peletakan batu pertama Hunian Sementara (Huntara) yang dilaksanakan oleh Bagana Lumajang. Kasatkorcab Lumajang H. Thoriqul Haq atau yang biasa disapa Cak Thoriq menyampaikan bahwa Ansor […]

  • PAC GP Ansor Tanah Merah Santuni Anak Yatim dan Dhuafa

    PAC GP Ansor Tanah Merah Santuni Anak Yatim dan Dhuafa

    • calendar_month Jumat, 7 Mei 2021
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Ansorjatim, Bangkalan – Jum’at, 07 Mei 2021, Pac. GP Ansor Tanah Merah mendistribusikan 100 sembako kepada para Anak Yatim dan Dhuafa di 3 Desa, Dlambah Selatan, Tlomar, dan Desa Mrecah. Kegiatan ini diinisiasi oleh Pac. GP Ansor Tanah Merah dalam rangka “Harlah GP Ansor ke-87.” Selain itu, kegiatan ini merupakan salah satu dari bentuk kepedulian […]

  • CHATour Siapkan 2000 Seat Umroh di Bulan September Untuk Jamaah PT. Arofah Mina, Berikut Informasi Lengkapnya

    CHATour Siapkan 2000 Seat Umroh di Bulan September Untuk Jamaah PT. Arofah Mina, Berikut Informasi Lengkapnya

    • calendar_month Sabtu, 19 Agt 2023
    • visibility 289
    • 0Komentar

    Surabaya – Langkah konkrit dari Cemerlang Hajar Aswad (CHATour) dalam memberi Advokasi kepada PT. Arofah Mina ditunjukan dengan sejumlah program akselerasi yang khusus diberikan kepada jamaah Arofah Mina yang gagal berangkat dalam tiga tahun terakhir. Melalui sinergi bisnis yang dibangun, CHATour memberikan informasi bahagia kepada seluruh jamaah Arofah Mina yang sebelumnya telah melakukan deposit pembayaran […]

  • Adaptif Terhadap Tantangan Global, Kader Ansor Banser Tulungagung Tanam 1230 Pohon Alpukat

    Adaptif Terhadap Tantangan Global, Kader Ansor Banser Tulungagung Tanam 1230 Pohon Alpukat

    • calendar_month Minggu, 25 Mei 2025
    • visibility 753
    • 0Komentar

    Tulungagung, Ansor Jatim – Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Tulungagung menggelar Apel Peringatan dan Apel Kader Banser Ketahanan Pangan di Kampus II STAI Diponegoro Tulungagung. Acara ini menjadi simbol kebangkitan peran pemuda dalam menjaga masa depan bangsa melalui aksi nyata ketahanan pangan. Sabtu (24/05/2025). Sebanyak 1230 pohon alpukat ditanam serentak […]

  • Tausiyah Rais Aam KH Miftachul Akhyar: Tanggung Jawab Kaum Santri

    Tausiyah Rais Aam KH Miftachul Akhyar: Tanggung Jawab Kaum Santri

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2020
    • visibility 534
    • 2Komentar

     Jakarta – Saat ini, kita hidup di tengah-tengah fitnah dan sedang menghadapi beberapa situasi darurat. Mulai dari darurat ahlussunnah wal jamâ’ah (aswaja), darurat sami’na wa atha’na, darurat hoaks, darurat tabayun, hingga darurat radikalisme (kalimatu haqqin urîda bihâ bâthil). Dalam situasi dan kondisi tersebut, setiap pengurus Nahdlatul Ulama tentu memiliki kewajiban moral untuk melakukan pembinaan terhadap umat […]

expand_less