Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Merdeka dari COVID-19

Merdeka dari COVID-19

  • account_circle Cyber Ansor
  • calendar_month Ming, 23 Agu 2020
  • visibility 406
  • comment 0 komentar

Oleh: Mahdi El Kherid*

Pikiran kadang lebih kompleks permasalahannya, dibanding hal-hal yang tampak di permukaan. Karena pikiran, orang tak segan untuk bunuh diri. Karena pikiran tentang sebuah gengsi, orang bisa mencuri. Karena pikiran, kita bisa melakukan hal-hal di luar kendali.

Pikiran adalah salah satu persoalan paling penting dalam kehidupan manusia. Pikiran, kira-kira menguasai 90 persen persoalan umat manusia. Ketika pikiran kita beres, besar kemungkinan permasalahan hidup kita juga beres. Pikiran yang ruwet, barang tentu akan membuat persoalan kita menjadi ruwet.

Pikiran kolektif bangsa ini, adalah bagian yang dijajah oleh bangsa lain, sebelum kita merdeka, 75 tahun yang lalu. Tak perlu jauh-jauh membahas tentang pendidikan yang tak merata ketika kita sebelum merdeka, tentang pikiran kita bahwa cantik itu adalah putih, sedangkan jelek itu adalah hitam, bisa jadi adalah bagian dari penjajahan itu sendiri.

Mungkin karena penjajahan pikiran inilah, sastrawan Pramoedya Anantatoer sama sekali tidak menyesal ketika sudah berhubungan badan dengan noni-noni Belanda. Bahkan, dengan berhubungan badan itu, Pram merasa sudah satu kasta dengan noni-noni Belanda.

Rasa rendah diri atau infrioritas yang ada dalam diri Pram, langsung hilang ketika berhubungan badan dengan noni-noni Belanda. ”Karena hubungan seks itu, perasaan minder sebagai anak petani pada diri saya hilang seketika. Semua dari kita ternyata sama. Punya hak dan derajat yang sama juga sebagai manusia. Punya kemungkinan yang sama juga kalau memang kita punya keberanian,” kata Pram.

Tentu, penulis tidak hendak menganjurkan seks bebas dalam tulisan ini. Tapi, ingin menyampaikan bahwa pikiran yang terkukung, pikiran yang tak merdeka, sama bahayanya ketika fisik kita tak merdeka. Orang yang pikirannya tak jalan, mungkin sama terkekangnya dengan orang yang tak bisa jalan-jalan.

Tentang pikiran, akhir-akhir ini pikiran kita diuji dengan pandemi. Ketika usaha macet, ketika karyawan di rumahkan, ketika ibu repot mengurusi anaknya di rumah karena sekolah dari rumah, ketika kita tak bisa ke luar ke mana-mana. Semuanya itu, tak hanya menghantam fisik kita, tapi juga pikiran kita.

Belum lagi, ancaman resesi ekonomi di Indonesia kian nyata. Beberapa waktu lalu, Menteri Ekonomi Sri Mulyani sebut bahwa pertumbuhan ekonomi kita bisa minus 1,1 persen, hingga positif 0,2 persen.

Adapun perekonomian domestik di kuartal II mengalami kontraksi alias minus 5,32 persen (yoy). Jika kuartal III kembali minus, maka Indonesia akan bergabung dengan negara lain yang telah masuk ke jurang resesi. Karena inilah, situasi ekonomi di kuartal III, benar-benar harus diwaspadai.

Tapi, sebagai rakyat biasa, kita tak boleh terlalu memikirkan soal resesi, yang itu sudah ada yang memikirkan. Yang perlu kita pikirkan, adalah, bagaimana kita bisa merawat pikiran kita di tengah pandemi.

Salah satu caranya adalah dengan menerima kehadiran pandemi. Tidak takut, tapi tetap waspada. Tetap keluar rumah, tapi tetap waspada. Dengan bersikap moderat terhadap pandemi ini, maka kita bisa terhindar dari sakitnya pikiran.

Apalagi, jauh-jauh hari, Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo sudah menegaskan bahwa kita harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Apalagi, WHO menyebut kalau COVID-19 bisa jadi melandai, tapi tidak akan hilang. Dengan demikian, kita harus hidup bersama dan berdamai dengan COVID-19.

Nah, pada momen kemerdekaan ini, kita harus memaknainya agar pikiran kita bisa merdeka dengan COVID-19. Disebut pikiran merdeka dengan COVID-19 adalah, pikiran kita, tak boleh sempit, harus berpikir luas di tengah pandemi sekalipun.

Dengan berpikir positif, kita akan terhindar dari sak wasangka. Terhindar dari menyalahkan pemerintah. Terhindar dari sikap acuh tak acuh. Berpikir merdeka, berarti, bagaimana kita tetap melihat cahaya di lorong paling gelap sekalipun.

Contohnya, di tengah pandemi, kita bisa lebih banyak bersama keluarga. Bagi yang pengusaha, bisa lebih inovatif lagi, melihat peluang-peluang baru. Dan bagi karyawan yang di PHK, mungkin inilah waktu yang tepat untuk berwirausaha. Sedangkan bagi karyawan yang dipertahankan, mungkin inilah waktu untuk bersyukur terhadap perusahaan yang mempekerjakan kita.

Akhirnya, memilih berpikir merdeka dari COVID-19, adalah langkah tepat agar kita senantiasa melihat peluang, di situasi macam apapun.

*Penulis Adalah Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim.

  • Penulis: Cyber Ansor

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arvy Rizaldi Nakhoda PC GP Ansor Banyuwangi 2025-2029, Terpilih Secara Aklamasi

    Arvy Rizaldi Nakhoda PC GP Ansor Banyuwangi 2025-2029, Terpilih Secara Aklamasi

    • calendar_month Rab, 15 Jan 2025
    • visibility 503
    • 0Komentar

    Banyuwangi, Ansor Jatim – Arvy Rizaldi, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Banyuwangi, Selasa malam (14/1/2025). Dalam Konferensi Cabang PC GP Ansor Banyuwangi yang digelar di Resto Daepong, Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari itu. Arvy Rizaldi terpilih secara aklamasi setelah mendapatkan dukungan 22 rekomendasi Pimpinan Anak Cabang (PAC) dari […]

  • Viral Peserta Kecil Diklatsar Bangil Yang Bercita-cita Menjadi Pengawal Ulama

    Viral Peserta Kecil Diklatsar Bangil Yang Bercita-cita Menjadi Pengawal Ulama

    • calendar_month Ming, 8 Nov 2020
    • visibility 771
    • 0Komentar

    Ansorjatin, Pasuruan – Ada hal menarik dalam Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser PC GP Ansor Bangil yang diikuti oleh 150 peserta. Agenda kaderisasi yang berlangsung pada 6-8 November 2020 itu diikuti oleh satu peserta yang memantik perhatian khalayak. Muhammad izudin haq al-fatih, nama peserta Diklatsar kecil yang berusia 8 tahun. Anak kecil penuh semangat yang […]

  • Dibuka Putri Muassis NU, PKD Ansor Jombang Kota Wujudkan Kader Militan

    Dibuka Putri Muassis NU, PKD Ansor Jombang Kota Wujudkan Kader Militan

    • calendar_month Sab, 13 Nov 2021
    • visibility 212
    • 0Komentar

    AnsorJatim, Jombang – Hj. Mundjidah Wahab selaku Bupati Jombang dan juga putri Muassis NU KH Wahab Chasbullahmembuka acara Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Dirosah Ula Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang Kota, di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan berlangsung selama tiga hari sejak Jumat-Ahad (12 – 14/11/2021). Selain […]

  • Pelantikan PAC Ansor Singosari: Dari Sejarah Menuju Aksi Nyata

    Pelantikan PAC Ansor Singosari: Dari Sejarah Menuju Aksi Nyata

    • calendar_month Ming, 25 Mei 2025
    • visibility 755
    • 0Komentar

    Singosari, Ansor Jatim – Mengusung semangat “Resonansi Sejarah; Energi Masa Depan”, Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Singosari resmi dilantik di Aula SMK Plus Al Ma’arif, Candirenggo, Minggu pagi (25/5). Kegiatan ini bukan sekadar pengukuhan struktur baru, tetapi momentum penting dalam mengonsolidasikan kekuatan organisasi menuju gerakan yang lebih dinamis, responsif, dan relevan dengan […]

  • PW Ansor Jawa Timur Kukuhkan Empat Pengurus Bidang Masa Khidmat 2019-2023

    PW Ansor Jawa Timur Kukuhkan Empat Pengurus Bidang Masa Khidmat 2019-2023

    • calendar_month Kam, 8 Apr 2021
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Ansorjatim, Surabaya – Pengurus Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor kembali mengukuhkan empat pengurus Bidang dan dua Lembaga Masa Khidmat 2019-2023, di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo, Rabu (7/4). Setelah sehari sebelumnya juga mengukuhkan tiga  bidang bertempat di aula Graha Ansor Jawa Timur. Adapun empat bidang yang Dikukuhkan Pengurus Wilayah GP Ansor Jatim antara lain, Bidang Energi […]

  • Peran NU dalam Persiapan dan Pasca Kemerdekaan NKRI

    Peran NU dalam Persiapan dan Pasca Kemerdekaan NKRI

    • calendar_month Jum, 14 Agu 2020
    • visibility 4.112
    • 4Komentar

     Peran dan kontribusi Nahdatul Ulama (NU) sangat besar dalam sejarah perjuangan bangsa, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan, terutama dalam pemberdayaan masyarakat. NU juga mempunyai kedekatan hubungan dengan Presiden RI yang pertama, Soekarno. Pada Muktamar Alim Ulama se- Indonesia tahun 1953 di Cipanas, diputuskan untuk memberi gelar kepada Soekarno sebagai Waliyul Amri Dharuriy bis-Syawkah (Pemimpin Pemerintahan […]

expand_less