Breaking News
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Aswaja » Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU

Inilah Penjelasan Mengenai Aswaja Perspektif NU

  • account_circle Ansor Jatim
  • calendar_month Jum, 14 Agu 2020
  • visibility 729
  • comment 0 komentar

Forum Muktamar Ke-33 NU di Jombang pada awal Agustus 2015 lalu membahas perihal “Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah” atau Aswaja Perspektif NU pada sidang komisi bahtsul masail diniyah maudhu’iyyah. Materi ini dibahas di masjid utama pesantren Tambakberas Jombang yang dipimpin oleh KH Afifuddin Muhajir. Berikut ini rumusannya.


Khashaish Ahlussunnah wal Jamaah An-NahdhiyahAn-Nahdhiyah

Islam sebagai agama samawi terakhir memiliki banyak ciri khas (khashaish) yang membedakannya dari agama lain. Ciri khas Islam yang paling menonjol adalah tawassuth, ta’adul, dan tawazun. Ini adalah beberapa ungkapan yang memiliki arti yang sangat berdekatan atau bahkan sama. Oleh karena itu, tiga ungkapan tersebut bisa disatukan menjadi “wasathiyah”. Watak wasathiyah Islam ini dinyatakan sendiri oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu (umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah;143)

Nabi Muhammad SAW sendiri menafsirkan kata وَسَطًا dalam firman Allah di atas dengan adil, yang berarti fair dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Perubahan fatwa karena perubahan situasi dan kondisi, dan perbedaan penetapan hukum karena perbedaan kondisi dan psikologi seseorang adalah adil.Selain ayat di atas, ada beberapa ayat dan hadits yang menunjukkan watak wasathiyah dalam Islam, misalnya firman Allah:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)

Dalam firman-Nya yang lain,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’: 110)

Sementara dalam hadits dikatakan,


خَيْرُ اْلأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا

“Sebaik-baik persoalan adalah sikap-sikap moderat.”

Mirip dengan hadits di atas adalah riwayat,

وَخَيْرُ اْلأَعْمَالِ أَوْسَطُهَا وَدِيْنُ اللهِ بَيْنَ الْقَاسِىْ وَالْغَالِىْ

“Dan sebaik-baik amal perbuatan adalah yang pertengahan, dan agama Allah itu berada di antara yang beku dan yang mendidih.”

Wasathiyyah yang sering diterjemahkan dengan moderasi itu memiliki beberapa pengertian sebagai berikut: Pertama, keadilan di antara dua kezhaliman (عدل بين ظلمين) atau kebenaran di antara dua kebatilan (حق بين باطلين), seperti wasathiyah antara atheisme dan poletheisme. Islam ada di antara atheisme yang mengingkari adanya Tuhan dan poletheisme yang memercayai adanya banyak Tuhan. Artinya, Islam tidak mengambil paham atheisme dan tidak pula paham poletheisme, melainkan paham monotheisme, yakni paham yang memercayai Tuhan Yang Esa. Begitu juga wasathiyyah antara boros dan kikir yang menunjuk pada pengertian tidak boros dan tidak kikir. Artinya, Islam mengajarkan agar seseorang di dalam memberi nafkah tidak kikir dan tidak pula boros, melainkan ada di antara keduanya, yaitu al-karam dan al-jud. Allah berfirman;


وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Kedua, pemaduan antara dua hal yang berbeda/berlawanan. Misalnya, (a). wasathiyyah antara rohani dan jasmani yang berarti bahwa Islam bukan hanya memerhatikan aspek rohani saja atau jasmani saja, melainkan memerhatikan keduanya. Wasathiyyah antara nushûs dan maqâshid. Itu berarti Islam tak hanya fokus pada nushûs saja atau maqâshid saja, melainkan memadukan antara keduanya. (b). Islam pun merupakan agama yang menyeimbangkan antara `aql dan naql. Bagi Islam, akal dan wahyu merupakan dua hal yang sama-sama memiliki peranan penting yang sifatnya komplementer (saling mendukung antara satu sama lain). Kalau diibaratkan dengan pengadilan, akal berfungsi sebagai syahid (saksi) sementara wahyu sebagai hakim, atau sebaliknya, yakni akal sebagai hakim sementara wahyu sebagai syahid. (c).  Islam menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara individu dan masyarakat,  antara ilmu dan amal, antara ushul dan furu’, antara sarana (wasilah) dan tujuan (ghayah), antara optimis dan pesimis, dan seterusnya.

Ketiga, realistis (wâqi’iyyah). Islam adalah agama yang realistis, tidak selalu idealistis. Islam memunyai cita-cita tinggi dan semangat yang menggelora untuk mengaplikasikan ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan hukumnya, tapi Islam tidak menutup mata dari realitas kehidupan yang–justru–lebih banyak diwarnai hal-hal yang sangat tidak ideal. Untuk itu, Islam turun ke bumi realitas daripada terus menggantung di langit idealitas yang hampa. Ini tidak berarti bahwa Islam menyerah pada pada realitas yang terjadi, melainkan justru memerhatikan realitas sambil tetap berusaha untuk tercapainya idealitas. Contoh wasathiyyah dalam arti waqi’iyyah ini adalah pemberlakuan hukum ‘azîmah dalam kondisi normal dan hukum rukhshah dalam kondisi dharurat atau hajat.

Watak wasathiyyah dalam Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tercermin dalam semua aspek ajarannya, yaitu akidah, syariah, dan akhlaq/tasawwuf serta dalam manhaj. Dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah, watak wasathiyyah tersebut antara lain terjadi dalam hal-hal sebagai berikut:

1. Melandaskan ajaran Islam kepada Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai sumber pokok dan juga kepada sumber-sumber sekunder yang mengacu pada Al-Qur’an dan As-sunnah seperti ijma’ dan qiyas.

2. Menjadikan ijtihad sebagai otoritas dan aktifitas khusus bagi orang-orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang tidak mudah untuk dipenuhi. Sedangkan bagi yang tidak memenuhi syarat-syarat ijtihad, tidak ada jalan lain kecuali harus bermazhab dengan mengikuti salah satu dari mazhab-mazhab yang diyakini penisbatannya kepada ashabul madzahib. Namun, Nahdlatul Ulama membuka ruang untuk bermadzhab secara manhaji dalam persoalan-persoalan yang tidak mungkin dipecahkan dengan bermadzhab secara qauli.

Pola bermadzhab dalam NU berlaku dalam semua aspek ajaran Islam; aqidah, syariah/fiqh, dan akhlaq/tasawwuf, seperti dalam rincian berikut: (a). Di bidang syariah/fiqh, Nahdlatul Ulama mengikuti salah satu dari madzhab empat, yaitu madzhab Imam Abu Hanifah, Madzhab Imam Malik ibn Anas, madzhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafii dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. (b). Di bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan madzhab Imam Abu Manshur al-Maturidi. (c). Di bidang akhlaq/tasawuf mengikuti madzhab Imam al-Junaid al-Baghdadi dan madzhab Imam Abu Hamid al-Ghazali.

3. Berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an di dalam melakukan dakwah dan amar makruf nahi mungkar, yaitu dakwah dengan hikmah/kearifan, mau’izhah hasanah, dan mujadalah bil husna.

4. Sebagai salah satu wujud dari watak wasathiyyah dengan pengertian al-waqi’iyyah (realistis), Nahdlatul Ulama menghukumi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan Pancasila sebagai dasarnya sebagai sebuah negara yang sah menurut pandangan Islam dan tetap berusaha secara terus menerus melakukan perbaikan sehingga menjadi negara adil makmur berketuhanan Yang Maha Esa. 

5. Mengakui keutamaan dan keadilan para shahabat Nabi, mencintai dan menghormati mereka serta menolak dengan keras segala bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka apalagi menuduh mereka kafir.

6. Tidak menganggap siapapun setelah Nabi Muhammad saw sebagai pribadi yang ma’shum (terjaga dari kesalahan dan dosa). 

7. Perbedaan yang terjadi di kalangan kaum muslimin merupakan salah satu dari fitrah kemanusiaan. Karena itu, menghormati perbedaan pendapat dalam masa`il furu`iyyah-ijtihadiyah adalah keharusan. Nahdhatul Ulama tak perlu melakukan klaim kebenaran dalam masalah ijtihadiyyah tersebut.

8. Menghindari hal-hal yang menimbulkan permusuhan seperti tuduhan kafir kepada sesama muslim, ahlul qiblah.

9. Menjaga ukhuwwah imaniyyah-islamiyyah di kalangan kaum muslimin dan ukhuwwah wathaniyyah terhadap para pemeluk agama-agama lain. Dalam konteks NU, menjaga ukhuwwah nahdliyyah adalah niscaya terutama untuk menjaga persatuan dan kekompakan seluruh warga NU.

10. Menjaga keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani dengan mengembangkan tasawwuf `amali, majelis-majelis dzikir, dan sholawat sebagai sarana taqarrub ilallah di samping mendorong umat Islam agar melakukan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. (Red Alhafiz K)

  • Penulis: Ansor Jatim

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harlah Ke- 89 Ansor, Gus Syafiq Pompa Semangat Satu Komando Ribuan Kader Ansor Banser Gresik 

    Harlah Ke- 89 Ansor, Gus Syafiq Pompa Semangat Satu Komando Ribuan Kader Ansor Banser Gresik 

    • calendar_month Ming, 28 Mei 2023
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Gresik- Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur (Jatim), Syafiq Syauqi (Gus Syafiq) mengungkapkan, kader Ansor-Banser harus tetap satu komando satu barisan. Sebagai pasukan garda terdepan diharapkan selalu berkontribusi apapun dinamika yang terjadi. Hal itu diserukan di hadapan ribuan Banser dan kader Ansor Gresik dalam gelaran Apel memperingati Hari Lahir (Harlah) Gerakan Pemuda […]

  • Ketua Ansor Jatim Ajak Kader Tidak Melewatkan Amanah yang Telah Diberikan Para Muassis

    Ketua Ansor Jatim Ajak Kader Tidak Melewatkan Amanah yang Telah Diberikan Para Muassis

    • calendar_month Sen, 21 Jul 2025
    • visibility 706
    • 0Komentar

    Sidoarjo, Ansor – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jatim, H Musaffa Safril berpesan kepada seluruh pengurus Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Sidoarjo yang baru saja dilantik agar tidak melewatkan amanah yang telah diberikan oleh para muassis Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara Inaugurasi atau pelantikan pengurus PC GP Ansor […]

  • Silaturahim ke RSI Nyai Ageng Pinatih, PAC GP Ansor Gresik sodorkan 9 Usulan Program Kerjasama

    Silaturahim ke RSI Nyai Ageng Pinatih, PAC GP Ansor Gresik sodorkan 9 Usulan Program Kerjasama

    • calendar_month Rab, 10 Mei 2023
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Gresik – Rabu, 10 Mei 2023, PAC GP Ansor Gresik bersilaturahim ke Rumah Sakit Islam Nyai Ageng Pinatih yang diterima langsung oleh Direktur RSI Nyai Ageng Pinatih bapak dr. Abdul Rokhim, MARS, FISqua. Ketua PAC GP Ansor Gresik , M. Zainuri mengucapkan selamat bertugas kepada beliau sebagai Direktur RSI NAP, dan kami berbangga pada akhirnya […]

  • Konfercab  PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Teguhkan Konsolidasi Kepemimpinan Cabang

    Konfercab PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Teguhkan Konsolidasi Kepemimpinan Cabang

    • calendar_month Ming, 25 Sep 2022
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Probolinggo – Konferensi Cabang (Konfercab) Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Probolinggo Tahun 2022 dengan tema ‘Kemandirian Organisasi, Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama Merawat’ resmi digelar di Aula Kantor PC NU Kabupaten Probolinggo, Ahad (25/9/2022). Ketua Tanfidziyah Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kyai Abdul Hamid berpesan, Ansor Probolinggo harus tetap satu Komando dan saling […]

  • Panen Raya Bersama Kasatkornas, Langkah Nyata Patriot Ketahanan Pangan Wujudkan Kedaulatan Pangan Nasional

    Panen Raya Bersama Kasatkornas, Langkah Nyata Patriot Ketahanan Pangan Wujudkan Kedaulatan Pangan Nasional

    • calendar_month Sel, 6 Mei 2025
    • visibility 1.192
    • 0Komentar

    Malang, Ansor Jatim – Setelah dikukuhkan dalam puncak peringatan Harlah ke 91 GP Ansor di Banyumas, Banser Patriot Ketahanan Pangan terus bergerak melakukan konsolidasi sumber daya guna mendukung langkah strategis Presiden Prabowo mewujudkan kedaulatan Pangan. Banser Patriot Ketahanan Pangan yang dipimpin langsung oleh Kasatkornas Banser H.M. Syafiq Syauqi, Lc, M.Ag melakukan gerakan nyata dengan turun […]

  • Tadarus Ilmiah Ramadhan, Cara GP Ansor Bangil Bangun Tradisi Diskusi di Harlah GP Ansor ke 87

    Tadarus Ilmiah Ramadhan, Cara GP Ansor Bangil Bangun Tradisi Diskusi di Harlah GP Ansor ke 87

    • calendar_month Ming, 25 Apr 2021
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Bangil – Peringatan Harlah GP Ansor yang ke 87 diperingati oleh PC GP Ansor Bangil dengan serangkaian kegiatan yang dirangkai dalam agenda Tadarus Ilmiah Ramadhan. Mengambil tema besar “Transformasi Ansor Bangil Menuju Organisasi Mandiri di Era Revolusi Industri 4.0” Agenda Harlah diawali dengan diskusi jelang buka puasa. Bertempat di Masjid As Syakur kompleks Markas Besar […]

expand_less