Breaking News
Trending Tags
Beranda » Banser » Sejarah Kelahiran Dan Derap Langkah Banser

Sejarah Kelahiran Dan Derap Langkah Banser

  • account_circle Ansor Jatim
  • calendar_month Selasa, 22 Jun 2021
  • visibility 693
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Sejumlah aksi massa PKI yang dimulai pada pertengahan 1961 adalah peristiwa Kendeng Lembu, Genteng, Banyuwangi (13 Juli 1961), peristiwa Dampar, Mojang, Jember (15 Juli 1961), peristiwa Rajap, Kalibaru, dan Dampit (15 Juli 1961), peristiwa Jengkol, Kediri (3 November 1961), peristiwa GAS di kampung Peneleh, Surabaya (8 November 1962), sampai peristiwa pembunuhan KH Djufri Marzuqi, dari Larangan, Pamekasan, Madura (28 Juli 1965).

PERLAWANAN GP ANSOR

Aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI mau tidak mau pada akhirnya menimbulkan keresahan di kalangan warga masyarakat yang bukan PKI. Dikatakan meresahkan karena pada umumnya yang menjadi korban dari aksi-aksi massa sepihak tersebut adalah anggota PNI, PSI, ex-Masyumi, NU, dan bahkan organisasi Muhammadiyah. Ironisnya, aksi-aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI itu belum pernah mendapat perlawanan dari anggota partai dan organisasi bersangkutan kecuali dari GP Ansor, yang mulai menunjukkan perlawanan memasuki tahun 1964.

Perlawanan anggota GP Ansor sendiri tidak selalu dilatari oleh persoalan yang dihadapi warga Nahdliyyin berkenaan dengan aksi-aksi massa sepihak PKI, melainkan dilatari pula oleh permintaan perlindungan dari warga PNI, ex-Masyumi maupun Muhammadiyah. Di antara perlawanan yang pernah dilakukan oleh GP Ansor terhadap aksi-aksi massa sepihak PKI adalah peristiwa Nongkorejo, Kencong, Kediri di mana pihak PKI didukung oleh oknum aparat seperti Jaini (Juru Penerang) dan Peltu Gatot, wakil komandan Koramil setempat. Dalam kasus itu, PKI telah mengkapling dan menanami lahan milik Haji Samur. Haji Samur kemudian minta bantuan GP Ansor. Terjadi bentrok fisik antara Sukemi (PKI) dengan Nuriman (Ansor). Sukemi lari dengan tubuh berlumur darah. Pengikutnya lari ketakutan.

Pecah pula peristiwa Kerep, Grogol, Kediri. Ceritanya, tanah milik Haji Amir warga Muhammadiyah oleh PKI dan BTI diklaim sebagai tanah klobot, padahal itu tanah hak milik. Setelah klaim itu, PKI dan BTI menanam kacang dan ketela di antara tanaman jagung di lahan Haji Amir.

Karena merasa tidak berdaya, maka Haji Amir meminta bantuan kepada Gus Maksum di pesantren Lirboyo. Puluhan Ansor dari Lirboyo bersenjata clurit dan parang, menghalau PKI dan BTI dari lahan Haji Amir.

Tawuran massal Ansor dengan Pemuda Rakyat pecah pula di Malang. Ceritanya, Karim DP (Sekjen PWI) datang ke kota Malang dan dalam pidatonya mengecam kaum beragama sebagai borjuis-feodal yang harus diganyang. Mendengar pidato Karim DP itu, para pemuda Ansor langsung naik ke podium dan langsung menyerang Karim. Para anggota Pemuda Rakyat membela. Terjadi bentrok fisik. Pemuda Rakyat banyak yang luka.

KELAHIRAN BANSER

Aksi massa sepihak yang dilakukan oleh PKI pada kenyataannya sangat meresahkan masyarakat terutama umat Islam. Sebab dalam aksi-aksi itu, PKI melancarkan slogan-slogan pengganyangan terhadap apa yang mereka sebut tujuh setan desa. Tujuh setan desa dimaksud adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pengirim zakat (LSIK, 1988:72).

Dengan masuknya ‘pengirim zakat’ ke dalam kategori tujuh setan desa, jelas umat Islam merasa sangat terancam. aksi massa sepihak yang dilakukan PKI rupanya makin meningkat jangkauannya. Artinya, PKI tidak saja mengkapling tanah-tanah milik negara dan milik tuan tanah melainkan merampas pula tanah bengkok, tanah milik desa, malah yang meresahkan, sekolah-sekolah negeri pun akhirnya diklaim sebagai sekolah milik PKI.

Hal ini terutama terjadi di Blitar. Dengan aksi itu, baik perangkat  desa maupun guru-guru yang ingin terus bekerja harus menjadi anggota  PKI.

Atas dasar aksi sepihak PKI itulah kemudian pengurus Ansor kabupaten Blitar membentuk sebuah barisan khusus yang bertugas menghadapi aksi sepihak PKI. Melalui sebuah rapat yang dihadiri oleh pengurus GP Ansor seperti Kayubi, Fadhil, Pangat, Romdhon, Danuri, Chudori, Ali Muksin, H. Badjuri, Atim, Abdurrohim Sidik , diputuskanlah nama Barisan Ansor Serbaguna disingkat Banser. Pencetus nama Banser adalah Fadhil, yang diterima aklamasi.

Karena Banser adalah suatu kekuatan paramiliter serba guna yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan di masa genting maupun aman, maka lambang yang disepakati dewasa itu berkaitan dengan keberadaan Banser.

Lambang awal Banser mencakup tiga gambar yakni cangkul, senapan dan buku. Menurut Romdhon, tiga gambar itu memiliki makna bahwa seorang anggota Banser siap melakukan pekerjaan membantu masyarakat yang membutuhkan (simbol cangkul), siap pula membela agama, bangsa dan negara (senapan) dan siap pula belajar (buku).

Dalam tempo singkat, setelah Banser Blitar terbentuk, secara berantai dibentuklah Banser di berbagai daerah. Dan pada 24 April 1964, Banser dinyatakan sebagai program Ansor secara nasional. Mula-mula, Banser dilatih oleh anggota Brimob.
Kemudian dilatih pula oleh RPKAD (Kopasus), Raiders dan batalyon-batalyon yang terdekat. Selain dibina oleh pihak militer, Banser secara khusus dibina oleh para kiai dan ulama tarekat dengan berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan. Di antara kiai yang terkenal sebagai pembina spiritual Banser dewasa itu adalah Kiai Abdul Djalil Mustaqim (Tulungagung) , KH Badrus Sholeh (Purwoasri, Kediri), KH Machrus Ali dan KH Syafii Marzuki (Lirboyo, kediri), KH Mas Muhadjir (Sidosermo, Surabaya), KH Djawahiri (Kencong, Kediri), KH Shodiq (Pagu, Kediri), KH Abdullah Sidiq (Jember).

Hasil kongkret dari pembentukan Banser, perlawanan terhadap aksi sepihak PKI makin meningkat. Kordinasi-kordinasi yang dilakukan anggota Banser untuk memobilisasi kekuatan berlangsung sangat cepat dan rapi. Dalam keadaan seperti itu, mulai sering terjadi bentrokan-bentrokan fisik antara Banser dengan PKI. Bahkan pada gilirannya, terjadi serangan-serangan yang dilakukan anggota Banser terhadap aksi-aksi massa maupun anggota PKI. Demikianlah, pecah berbagai bentrokan fisik antara Banser dengan PKI di berbagai tempat seperti: Peristiwa Kanigoro.

13 Januari 1965 tepat pukul 04.30 WIB, sekitar 10.000 orang Pemuda Rakyat dan BTI melakukan penyerbuan terhadap pondok pesantren Kanigoro, Kras, Kediri. Alasan mereka melakukan penyerbuan, karena di pesantren itu sedang diselenggarakan Mental Training Pemuda Pelajar Indonesia (PII). Pimpinan penyerbu itu adalah Suryadi dan Harmono. Massa Pemuda Rakyat dan BTI itu menyerbu dengan bersenjatakan golok, pedang, kelewang, arit, dan pentungan sambil berteriak histeris: – ‘Ganyang santri!’, ‘Ganyang Serban!’, ‘Ganyang Kapitalis!’, ‘Ganyang Masyumi!’.

Para anggota PR dan BTI yang sudah beringas itu kemudian mengumpulkan kitab-kitab pelajaran agama dan Al-Qur’an. Kemudian semua dimasukkan ke dalam karung dan diinjak-injak sambil memaki- maki.

Pimpinan pondok, Haji Said Koenan, dan pengasuh pesantren KH Djauhari, ditangkap dan dianiaya. Para pengurus PII digiring dalam arak-arakan menuju Polsek setempat. Para anggota PR dan BTI menyatakan, bahwa PII adalah anak organisasi Masyumi yang sudah dilarang. Jadi PII, menurut PKI, berusaha melakukan tindak makar dengan mengadakan training-training politik.

Peristiwa penyerangan PR dan BTI terhadap pesantren Kanigoro, dalam tempo singkat menyulut kemarahan Banser Kediri.

Gus Maksum – putera KH Djauhari — segera melakukan konsolidasi. Siang itu, 13 Januari 1965, delapan truk berisi Banser dari Kediri datang ke Kanigoro.Markas dan rumah-rumah anggota PKI digrebek. Suryadi dan Harmono, pimpinan PR dan BTI, ditangkap dan diserahkan ke Polsek.

BANSER VERSUS LEKRA

Bentrok Banser dengan PKI pecah di Prambon. Awal dari bentrok itu dimulai ketika Ludruk Lekra mementaskan lakon yang menyakiti hati umat Islam yakni : ‘Gusti Allah dadi manten’ (Allah menjadi pengantin).

Pada saat ludruk sedang ramai, tiba- tiba Banser melakukan serangan mendadak. Ludruk dibubarkan. Para pemain dihajar. Bahkan salah seorang pemain yang memerankan raja, saking ketakutan bersembunyi di kebun dengan pakaian raja.

Bulan Juli 1965, terjadi insiden di Dampit kabupaten Malang. Ceritanya, di rumah seorang PKI diadakan perhelatan dengan menanggap ludruk Lekra dengan lakon ‘Malaikat kimpoi’. Banser datang dari berbagai desa sekitar. Pada saat ludruk dipentaskan para anggota Banser yang menonton di bawah panggung segera melompat ke atas panggung. Kemudian dengan pisau terhunus, satu demi satu para pemain itu dicengkeram tubuhnya dan kemudian disobek mulutnya dengan pisau. Melihat keberingasan Banser, penonton bubar ketakutan. Mereka takut diamuk Banser.

Menjelang pecahnya peristiwa 1 Oktober 1965 yang diberi nama “Gerakan 30 September”, aksi-aksi PKI yang menista dan menodai agama memang makin meningkat. Namun tidak ada satu pun organisasi Islam baik Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, PII, HMI, apalagi perorangan yang berani melakukan perlawanan kecuali Banser. Dan sejarah memang mencatat, sebelum pecahnya G-30-S/PKI antara PKI dan Banser memang sering terlibat bentrokan fisik yang menumpahkan darah gara-gara kasus penodaan agama. Bahkan pada sejumlah kasus, terdapat sejumlah jagoan PKI yang dibantai oleh Banser seperti peristiwa Kencong, Kediri, dan Pagedangan, Turen, Malang.

Aksi sepihak yang dilakukan PKI berpuncak pada pembunuhan atas Pelda Sudjono di Bandar Betsy. Dengan menggunakan cangkul, linggis, pentungan, dan kapak sekitar 200 orang BTI membantai perwira itu. Pembantaian terhadap anggota militer itu mendapat reaksi keras dari Letjen A Yani. Tokoh-tokoh PKI yang mendalangi kemudian diproses secara hukum. Namun hal itu makin menambah keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak.

PKI yang sudah merasa kuat, kemudian melakukan intervensi ke bidang politik dengan merekayasa suatu “kebulatan tekad” dari organisasi se-aspirasi mereka. Tanggal 6 Januari 1965, organisasi se-aspirasi PKI seperti SB/SS Pegawai Negeri, Lekra, Gerwani, Wanita Indonesia, Pemuda Indonesia, Germindo, Pemuda Demokrat, Pemuda Rakyat, BTI dan sebagainya mengadakan pertemuan umum di Semarang guna menggalang “kebulatan tekad” untuk menuntut pembubaran Badan Pendukung Soekarno (BPS) dan mendukung sikap Indonesia keluar dari PBB (Pusjarah ABRI, 1995,IV-A:107- 108).

Keberanian PKI dalam melakukan aksi sepihak, ditunjukkan dalam aksi yang lebih berani yakni menduduki kantor kecamatan Kepung, Kediri. Camat Samadikun dan Mantri Polisi Musin, melarikan diri dan meminta perlindungan Ketua Ansor Kepung yaitu Abdul Wahid. Untuk sementara, kantor kecamatan dipindah ke rumah Abdul Wahid. Dan sehari kemudian, sekitar 1000 orang Banser melakukan serangan ke kantor kecamatan untuk merebutnya dari kekuasaan PKI. Hanya dengan bantuan Gerwani, ratusan PKI yang menguasai kantor itu bisa lolos dari sergapan Banser.

PKI juga telah mulai berani membunuh tokoh PNI. Ceritanya, di desa Senowo, Kencong, Kediri, tokoh PNI bernama Paisun diculik PKI desa Botorejo dan Biro. Keluarganya lapor kepada Ansor. Waktu dicari, mayat Paisun ditemukan di WC dengan dubur ditusuk bambu tembus ke dada.

Banser dibantu warga PNI menyerang para penculik. Tokoh-tokoh PKI dari Botorejo dan Biro diburu. Malah dalang PKI bernama Djamadi, dibunuh  sekalian karena menjadi penunjuk jalan PKI.

Juni 1965, Naim seorang pendekar PKI desa Pagedangan, Turen, Malang, menantang Banser sambil membanting Al-Qur’an. Naim dikalahkan Banser bernama  Samad.
Mayatnya dibenamkan di sungai..

Wallaahua’lam

  • Penulis: Ansor Jatim

Rekomendasi Untuk Anda

  • PC GP Ansor, Polres & FKUB magetan  Gelar vaksinasi

    PC GP Ansor, Polres & FKUB magetan Gelar vaksinasi

    • calendar_month Rabu, 22 Sep 2021
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Magetan, Jawa Timur bekerjasama dengan Polres Magetan & FKUB magetan serta Taman Wisata Magetan Park menyasar masyarakat umum dimagetan dalam vaksinasi COVID-19 di Taman Wisata Magetan Park, Rabu 22 September 2021 “Kita ingin melindungi segenap lapisan masyarakat, karena kami (GP Ansor) sebagai santri NU (Nahdlatul Ulama) […]

  • Ansor Minta Stop Kegaduhan di Ruang Publik

    Ansor Minta Stop Kegaduhan di Ruang Publik

    • calendar_month Kamis, 28 Jul 2022
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Surabaya, Ansor Jatim — Narasi dan kegaduhan di sosial media yang berkembang terkait kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J sudah waktunya dihentikan. Hal itu diungkapkan oleh analis Intelijen Cyber Ansor Jatim, Zulham Akhmad Mubarrok. Pihaknya meminta semua pihak berperkara menghentikan atau stop perang opini di media sosial sebagai ruang publik. “Proses investigasi […]

  • Turun Ke Jawa Timur, PP GP Ansor Rapikan Barisan Dalam Satu Komando dan Penataan Organisasi Dengan Sistem E-Akreditasi

    Turun Ke Jawa Timur, PP GP Ansor Rapikan Barisan Dalam Satu Komando dan Penataan Organisasi Dengan Sistem E-Akreditasi

    • calendar_month Selasa, 23 Mei 2023
    • visibility 484
    • 0Komentar

    Surabaya – Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor memberikan instruksi dan arahan langsung kepada Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang GP Ansor Jawa Timur. Hadir langsung dari Pimpinan Pusat GP Ansor dalam agenda bertajuk Halal Bihalal dan Konsolidasi Organisasi PW GP Ansor Jawa Timur yang bertempat di Hall Room Lantai 3 Kantor PW GP Ansor Jawa Timur, […]

  • PAC GP Ansor Karangploso Gelar Pelantikan Masa Khidmat 2022-2024

    PAC GP Ansor Karangploso Gelar Pelantikan Masa Khidmat 2022-2024

    • calendar_month Minggu, 3 Jul 2022
    • visibility 357
    • 0Komentar

    Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Karangploso mengadakan Pelantikan di Aula HM Thohir MWC NU Karangploso. Acara tersebut dihadiri langsung oleh ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kabupaten Malang Fatkhur Rozy. Abdul wahab ketua PAC GP Ansor Karangploso mengatakan kepada seluruh kader Ansor dan Banser bahwa kaderisasi harus terus berjalan terutama di Ansor […]

  • Ribuan Kader Siap Hadiri Konferwil XV PW GP Ansor Jatim di PP. Zainul Hasan Genggong-Probolinggo

    Ribuan Kader Siap Hadiri Konferwil XV PW GP Ansor Jatim di PP. Zainul Hasan Genggong-Probolinggo

    • calendar_month Minggu, 11 Agt 2024
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Ansorjatim – Konferensi Wilayah (Konferwil) XV Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur akan diselenggarakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo. Acara ini direncanakan akan dihadiri oleh 675 Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor yang mewakili 42 Pimpinan Cabang (PC) dari seluruh Jawa Timur. Perhelatan ini diproyeksikan akan menarik partisipasi sekitar […]

  • Semarak Harlah NU ke-102, PAC Ansor Sukodono Adakan Istighosah Sekaligus Pra Raker

    Semarak Harlah NU ke-102, PAC Ansor Sukodono Adakan Istighosah Sekaligus Pra Raker

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2025
    • visibility 626
    • 0Komentar

    Lumajang, Ansor Jatim – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-102, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Sukodono, Lumajang, menggelar istighosah bersama sekaligus pra rapat kerja (pra raker). Acara tersebut berlangsung khidmat di kediaman Ketua PAC Ansor Sukodono, Rabu malam (15/1/2025). Kegiatan istighosah dihadiri oleh anggota Ansor dan Banser […]

expand_less